Kesenian Jawa Timur

2 min read

Kesenian Jawa timur

Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timur yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang. Meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi.

Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, tarian Jawa gaya Osing, dan trian gaya Madura. Seni tari klasik antara lain tari gambyong, tari srimpi, tari bondan, dan kelana.

Berikut adalah daftar beberapa kesenian jawa timur yang masih di lakukan hingga sekarang.

Ludruk

Ludruk merupakan kesenian jawa timur berupa drama tradisional yang diperagakan oleh suatu kelompok kesenian yang dipentaskan di sebuah panggung dengan mengambil tema tentang kehidupan rakyat sehari-hari. Lebih jauh lagi, Wikipedia menjelasakan, bahwa:

“Ludruk adalah suatu kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang dipergelarkan di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.”

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Ludruk memang kesenian yang asal daerahnya adalah Jawa Timur. Tujuan dari seni Ludruk sendiri ialah untuk sarana hiburan bagi rakyat. Dalam pertunjukan, biasanya Ludruk memakai bahas Surabaya atau Malang yang jauh dari bahasa intelektual. Kenapa demikian? Supaya pesan yang disampaikan pada kesenian Ludruk bisa diserap dari semua lapiran masyarakat.

Reog Ponorogo

Reog adalah salah satu kesenian jawa timur , khususnya kota Ponorogo. Tak hanya topeng kepala singa saja yang menjadi perangkat wajib kesenian ini. Tapi juga sosok warok dan gemblak yang menjadi bagian dari kesenian Reog.

Di Indonesia, Reog adalah salah satu budaya daerah yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan.

Seni Reog Ponorogo ini terdiri dari 2 sampai 3 tarian pembuka. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.

Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisional, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. Eits, tarian ini berbeda dengan tari kuda lumping.

Ketoprak

Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.

Karapan Sapi

Karapan sapi- kesenian jawa timur

Pulau Madura yang secara administratif masuk dalam Provinsi Jawa Timur, memiliki sebuah acara dan tradisi unik bernama Karapan Sapi. Yaitu, sapi untuk beradu kecepatan yang dipasangkan untuk menarik kereta dari kayu sebagai tempat joki berdiri serta mengendalikan sapi. Acara ini biasa diselenggarakan pada bulan Agustus-Oktober, dengan bulan terakhir untuk acara final.

Dahulu ini bukanlah sebuah acara perlombaan yang memperebutkan sebuah piala bergilir yang dulu bernama Piala Presiden dan berubah menjadi Piala Gubernur sejak tahun 2013. Melainkan, sebuah cara untuk mencari sapi yang kuat untuk membajak sawah.

Oh iya, karapan sapi ini juga dikritik bahkan sudah keluar fatwa pelarangan mengenai karapan sapi. Karena, dianggap menyiksa sapi dengan cara rekeng.

Upacara Kasada

Upacara Kasada / Sukasada adalah hari raya adat suku Tengger yang diadakan setiap hari ke-14 pada bulan Kasada dalam kalender Jawa merupakan kesenian jawa timur . Upacara ini dimaksudkan sebagai persembahan untuk Sang Hyang Widhi dan leluhur. Dalam pelaksanaannya, suku Tengger melempar berbagai sesajen berupa buah-buahan, produk ternak, sayuran bahkan uang ke kawah Gunung Bromo.

Orang Tengger sendiri adalah pemeluk Hindu lama yang beribadah di danyang, poten dan punden. Nah, poten inilah yang digunakan sebagai tempat di mana Upacara Kasada dilangsungkan. Poten adalah sebidang tanah di lautan pasir di kaki Gunung Bromo dan terdiri dari beberapa bangunan yang disusun sedemikian rupa.

Upacara Kasada juga membawa banyak manfaat bagi masyarakat suku Tengger itu sendiri. Selain sebagai peringatan pengorbanan Raden Kesuma (anak Jaka Seger-Lara Anteng) dan juga sarana untuk meminta keselamatan, Upacara Kasada telah mampu menarik perhatian wisatawan untuk datang menontonnya, sehingga ada pemasukan lebih untuk kawasan wisata Gunung Bromo.

Menarik ya tradisi dan budaya kesenian jawa timur. Banggalah dengan apa yang menjadi keragaman Indonesia, jangan sampai tradisi seperti ini bisa hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *