Seni Kebudayaan Asli Daerah Trenggalek

3 min read

Seni Kebudayaan

Seni Kebudayaan – Trenggalek adalah kabupaten kecil yang ada di ujung selatan provinsi Jawa Timur, bahkan bila dilihat dari Google Map sekalipun kondisi geografis Trenggalek masih terlihat samar-samar. Yang menyedihkan lagi ada yang tidak tahu kabupaten Trenggalek itu mana.

Maka dari itu sebagai generasi muda tugas kita untuk mengenalkan Trenggalek ke dunia luar supaya diliihat khalayak banyak. Trenggalek memang terkenal akan wisatanya, terutama wisata pantai. Tetapi apa saja kebudayaan asli Trenggalek?? pasti sedikit yang mengulas tentang kebudayaan asal Trenggalek.

Berikut ini adalah beberapa kebudayaan asli Trenggalek, yaitu:

Seni Kebudayaan Larung Sembonyo

Ritual Larung Sembonyo berkembang di tengah masyarakat Prigi yang diyakini untuk menjaga keseimbangan alam sekitarnya serta alam semesta. Upacara Sembonyo dilakukan setiap bulan Selo, pada hari senin Kliwon setiap tahunnya. Ritual Larung Sembonyo ini dilakukan oleh para nalayan dan petani yang berkaitan dengan mata pencaharian utama masyarakat Prigi dan sebagai penghormatan atas leluhur yang berjasa membuka kawasan Prigi.

Tayub

Seni Kebudayaan Tayub adalah sekelompok musisi Jawa yang bernyanyi dan menari, dan populer karena gerakan-gerakan yang erotis layaknya jaipong atau tango. Para Penari Tayub selalu melibatkan para penonton dengan cara menarik mereka untuk ikut menari ke panggung, dan hal ini juga yang mengundang para penonton, yang kebanyakan laki-laki, akan memberikan saweran ke penari yang mengajak mereka. Semacam tips dalam bentuk uang.

Tayub adalah sebuah kesenian persahabatan, yang masih terus dikembangkan oleh masyarakat Trenggalek. Dalam setiap acara seperti perkawinan, acara khitanan, pesta ulang tahun atau acara kemerdekaan pasti akan selalu digelar Tayub sebagai hiburan utamanya.

Bersih Dam Bagong (nyadran)

Masih dalam bulan Selo penanggalan Jawa, setiap hari Jum’at Kliwon para petani dari 11 desa di Kecamatan Trenggalek dan Pogalan yang sawahnya mendapat pengairan dari Dam Bagong melaksanakan Upacara Bersih Dam Bagong. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, upacara tersebut juga untuk memperingati jasa pemrakarsa pembangunan Dam Bagong, yakni Menak Sopal.

Dikisahkan pada pertengahan abad XVI, Menak Sopal sangat prihatin melihat sawah para petani selalu kekeringan dan gagal panen. Lalu Beliau mengajak masyarakat menaikan air Kali Bagong dengan membuat Dam. Namun, kerja keras tersebut selalu gagal – setiap begitu selesai dikerjakan, Dam tersebut runtuh.

Dari wangsit yang diperoleh, Dam harus diberi tumbal Gajah Putih. Dengan berbagai upaya, Gajah Putih berhasil diperoleh Menak Sopal dan dijadikan tumbal Dam tersebut.

Sekarang, dalam setiap peringatan Bersih Dam Bagong dikorbankan seekor kerbau sebagai pengganti Gajah Putih. Setelah disembelih, kepala dan daging kerbau tersebut dilempar ke “Kedung Kali Bagong” dan masyarakat beramai-ramai menceburkan diri ke sungai untuk berebut kepala dan daging tersebut. Acara ini dilanjutkan dengan Ruwatan Wayang Kulit dengan cerita Udan Mintoyo serta ziarah ke makam Menak Sopal yang biasa dikunjungi.

Tari Jaranan Turonggo Yakso

Seni Kebudayaan tari Jaranan Turonggo Yakso adalah salah satu kebudayaan lainnya yang dimiliki oleh Trenggalek. Kebudayaan ini mula-mula dilakukan oleh masyarakat kecamatan Dongko, yang biasa disebut Baritan. Dinamakan Baritan, karena kesenian ini dilakukan “bubar ngarit tanduran” atau seusai bekerja di ladang.

Lalu, sejak tahun 1980an, oleh kepala desa Dongkos sendiri, kebudayaan diangkat menjadi kebudayan khas kota Trenggalek, dengan nama Turonggo Yakso. Tari Jaranan Turonggo Yakso ini menceritakan tentang kemenangan warga desa dalam mengusir marabahaya atau keangkaramurkaan yang menyerang desanya. Tarian ini selalu dibawakan setiap bulan Suro, dalam penanggalan Jawa, dan sudah ditentukan oleh seorang pawang atau sesepuh.

Waktu upacara ini dilakukan pada siang hari pukul 11.00, dimana proses pertama dimulai dengan berkumpulnya para petani sambil membawa perlengkapan sesaji, seperti ambeng dan longkong, serta tali yang dibuat dari bambu, yang biasa disebut Dadung.

Ritual Kebudayaan Tiban

Tari Tiban atau lebih tepatnya ritual Tiban merupakan Seni Kebudayaan tari atau ritual rakyat yang turun temurun menjadi bagian kebudayaan masyarakat Trenggalek. Tari Tiban selalu dipertujukkan saat musim kemarau yang berkepanjangan dengan tujuan sebagai permohonan diturunkannya hujan.

Tari Tiban terbagi menjadi 2 kelompok, masing-masing dipimpin 1 orang wasit atau biasa disebut Landang atau Plandang. Dalam ritual ini selalu diiringi dengan alunan musik layaknya gamelan lengkap yang terdiri dari kendang, kentongan, dan gambang laras.

Ritual ini cenderung ritual layaknya ajang mengadu ilmu ketrampilan atau kesaktian sambil menari-nari dan saling mencambuk dengan hitungan yang ditentukan oleh Landang. Cambuk yang digunakan dalam tari ini terbuat dari lidi pohon aren yang biasa di sebut ujung.

Permainan ini akan berlanjut sampai sore hari, dan bagi yang mereka yang merasa tidak sanggup melanjutkan akan digantikan oleh anggota kelompok berikutnya.

Tarian tiban adalah sebuah permintaan permohonan kepada yang maha kuasa berharap untuk diturunkanya hujan.Ada makna dalam dibalik ritual tarian tiban yaitu sebuah harapan sebuah pesan yang luhur demi lestarinya alam. Bukanlah kekerasan yang ditonjolkan melainkan nilai-nilai luhur atau sebuah pesan untuk menjaga keseimbangan alam.

Seni Kebudayaan pegon dan Brun

Seni Kebudayaan pegon dan brun merupakan kesenian yang menyerupai kesenian Jaranan atau kuda lumping, tetap dengan gaya dan tradisi yang lain dari seni jaranan pada umumnya. Kesenian ini melibatkan gerakan dan irama gending Jawa yang merupakan musik tradisional Jawa. Setiap gerakan dan irama selalu dinamis dan mengandung unsur-unsur magis.

Lebaran Ketupat

Lebaran ketupat merupakan bagian dari Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan umat Muslim setiap tahun. Pada dasarnya idul fitri memang identik dengan ketupat yang langsung disantap saat itu juga pada jamuan makan untuk tamu, tetapi pada beberapa daerah, khususnya Jawa Timur, lebaran ketupat jatuh pada satu minggu setelah hari raya Idul Fitri.

Layaknya lebaran ketupat, pasti pameran utamanya adalah adanya ketupat yang disetiap rumah sebagai menu utama, bersama dengan lauk pauk yang kaya akan bumbu seperti opor dan rending. Ketupat itupun biasanya dibagikan sebagai hantaran ke kerabat atau tetangga terdekat. Lalu apa yang istimewa dengan tradisi lebaran ketupat di Trenggalek?

Tempatnya berpusat di Desa Durenan, kecamatan Durenan Trenggalek, hari raya ketupat yang jatuh pada tanggal 8 Syawal tahun Hijriah selalu meriah. Setiap warga membuka lebar pintu meraka dan akan terdengar alunan music dari masing-masing  stereo pemiliki rumah sebagai isyarat  kepada para pengguna jalan untuk masuk ke rumah mereka.

Tidak aka nada basa-basi lagi, kecuali kalimat, “silakan menikmati hidangan ketupat.” yang keluar dari mulut tuan rumah. Mau berbincang-bincang atau pamit kerumah sebelah untuk menikmati ketupat sayur lainnya pun, tuan rumah tidak merasa tersinggung. Kenal atau tidak dengan tuan rumah setiap orang bebas masuk untuk menikmati hidangan ketupatpeyek.

Hari Jadi Trenggalek

Berdasarkan Prasasti Kamulan, Kabupaten Trenggalek berdiri pada 31 Agustus 1194 M. Setiap tahun hari jadi ini diperingati oleh masyarakat Trenggalek dengan menyelenggarakan upacara adat di Pendopo Kabupaten. Sehari sebelum peringatan, dilakukan acara ziarah ke makam-makam leluhur/pendahulu kota Trenggalek, malam tirakatan, tadarus dan lain-lain. Dan acara puncak akan diadakan kirab keliling kota yang diselenggarakan tanggal 31 Agustus.

Kirab keliling kota ini diikuti oelh berbagai macam lapisan masyarakat Trenggalek dengan berpakaian adat jawa dan diiringi berbagai kesenian  dan permainan tradisional. Pada malam harinya, berbagai pertunjukan kesenian digelar. Salah satunya dan yang wajib digelar adalah Wayang kulit yang akan digelar semalam suntuk. Acara tersebut merupakan atraksi wisata yang menarik sehingga setiap penyelenggaraannya selalu diramaikan oleh pengunjung dari dalam dan luar kota Trenggalek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *