Matriks Sitoplasma
Matriks Sitoplasma

Organel Sel Sitoplasma

Diposting pada

Pengertian Sitoplasma

Sitoplasma adalah cairan dalam  sel yang terletak antara membran plasma dan nukleus. Secara fisik, sitoplasma tebal, semitransparan, cairan elastik yang berisi partikel tersuspensi dan sedikit tubulus dan filamen yang membentuk sitoskleton.

Sitoskleton berfungsi sebagai penyokong dan pemberi bentuk sel dan bertanggung jawab terhadap gerakan struktur-struktur sel, juga fagositosis. Secara kimia, 70-90% sitoplasma terdiri dari air dan komponen padatan (protein, karbohidrat, lipida, dan zat-zat anorganik).

Sitoplasma merupakan cairan yang terdapat di dalam sel, kecuali di dalam inti dan organel sel. Khusus cairan yang terdapat di dalam inti sel dinamakan nukleoplasma. Sitoplasma bersifat koloid, yaitu tidak padat dan tidak cair. Penyusun utama dari sitoplasma adalah air yang berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kimia sel.


Organel Sel Sitoplasma

Organel sel adalah benda-benda solid yang terdapat di dalam sitoplasma dan bersifat hidup (menjalankan fungsi-fungsi kehidupan).

  1. Mitokondria

Mitokondria adalah organel-organel lipoprotein dalam plasma sel, berbentuk butir, batang atau benang yang mempunyai daya memperbanyak sendiri, terdiri dari suatu selaput luar dan dalam yang mengandung fosfat dan beberapa enzim yang berfungsi di dalam pemberian makanan dan pernapasan sel.

  1. Plastida

Plastida adalah badan organel yang terdapat dalam sitoplasma kebanyakan sel tumbuhan, dapat beberapa organel persediaan  atau organel fotosintesis (kloroplas).

  1. Vakuola

Vakuola merupakan ruangan di dalam sitoplasma yang berisi cairan yang isotonik dengan sitoplasma dan dikelilingi oleh satu selaput.

  1. Ribosom

Ribosom merupakan suatu dari sejumlah besar partikel nukleoprotein subsel yang tersusun atas RNA dan protein yang merupakan situs sintesis protein di dalam sel.

  1. Retikulum Endoplasma (RE)

Retikulum Endoplasma (RE) merupakan jalinan membran rangkap yang menyerupai jala, merambat ke seluruh bagian sitoplasma, yang membagi sitoplasma menjadi ruangan-ruangan atau saluran-saluran.

  1. Badan Golgi

Badan golgi merupakan benda berbentuk kantung pipih, terdapat pada sitoplasma tumbuhan atau hewan, terutama pada sel-sel sekresi, yang berfungsi sebagai alat untuk mengeluarkan kelebihan protein keluar dinding sel atau untuk mengangkut polisakarida untuk pembentukan dinding sel.

  1. Lisosom

Lisosom merupakan butir-butir berbentuk lonjong dalam sitoplasma sel hewan, banyak mengandung enzim penghidrolisis, berfungsi untuk menguraikan polisakarida, lemak, protein, dan asam nukleat, juga berperan dalam menghancurkan sel-sel mati dari jaringan yang rusak dan digantikan dengan sel-sel baru.

  1. Mikrofilamen

Mikrofilamen, Seperti mikrotubulus, tetapi lebih lembut. Terbentuk dari komponen utamanya yaitu protein aktin dan miosin (seperti pada otot). Mikrofilamen berperan dalam pergerakan sel.

  1. Sentrosom (Sentriol)

Sentrosom(sentriol) merupakan struktur berbentuk bintang yang berfungsi dalam pembelahan sel (mitosis maupun meiosis). Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam mitosis dan meiosis.

  1. Mikrotubulus

Mikrotubulus, berbentuk benang silindris, kaku, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan sebagai “rangka sel”.

  1. Peroksisom (Badan Mikro)

Peroksisom (badan mikro), ukurannya sama seperti lisosom. Organel ini senantiasa berasosiasi dengan organel lain, dan banyak mengandung enzim oksidase dan katalase (banyak disimpan dalam sel-sel hati).


Fungsi Sitoplasma

Beberapa fungsi sitoplasma antara lain:

  • Sebagai Medium

Sebagai medium terjadinya reaksi-reaksi kimia sel

  • Penerima Bahan Dasar

Sebagai penerima bahan-bahan dasar dari lingkungan eksternal dan mengubahnya menjadi bahan yang dapat digunakan sebagai energi.

  • Tempat Zat Baru

Sebagai tempat dimana zat baru disintesis untuk keperluan sel.

  • Sumber Bahan Kimia

Sumber bahan kimia penting bagi sel karena di dalamnya terdapat senyawa-senyawa organik terlarut, ion-ion, gas, molekul kecil seperti garam, asam lemak, asam amino, nukleotida, molekul besar seperti protein, dan RNA yang membentuk koloid.

  • Tempat Menampung Organel

Sebagai tempat menampung semua organel sel di luar nukleus.

  • Dapat Mengekalkan

Dapat mengekalkan bentuk dan ketekalan sel.

  • Tempat Simpanan Bahan Kimia

Sebagai  tempat simpanan bahan-bahan kimia yang sangat diperlukan untuk hidup, dan terlibat dalam tindak -tindak balas metabolisme yang penting seperti glikolisis anaerob dan sintesis protein.

  • Tempat Metabolisme Sitosolik

Sitoplasma juga berfungsi sebagai tempat terjadinya metabolisme sitosolik misalnya glikolisis, mendukung tempat terjadinya sintesis protein oleh ribosom, sebagai tempat penyimpanan bahan kimia yang berguna bagi metabolisme sel misalnya enzim, protein dan lemak, dan sebagai sarana atau fasilitator agar organel tertentu di dalam sel dapat bergerak. Sebagian besar proses di dalam sitoplasma diatur secara enzimatik.


Komponen Utama Sitoplasma

Penyusun utama dari sitoplasma adalah air (90%), berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kimia. Ukurannya tergantung dari ukuran sel itu sendiri. Terletak di antara membran sel dan inti sel. Pada sitoplasma terdapat kerangka sel (sitoskeleton), berbagai organel dan vesikuli (“gelembung”), serta sitosol yang berupa cairan tempat organel melayang-layang di dalamnya.

Sitosol mengisi ruang sel yang tidak ditempati organel dan vesikula dan menjadi tempat banyak reaksi biokimiawi serta perantara transfer bahan dari luar sel ke organel atau inti sel. Disamping air di dalamnya terlarut banyak molekul-molekul kecil, ion dan protein.

Ukuran partikel terlarut antara 0,001-0,1 µm dan bersifat transparan. Koloid sitoplasma dapat berubah dari sol ke gel begitu sebaliknya. Sol terjadi jika konsentrasi air tinggi, sedang gel saat konsentrasi air rendah.

 Berikut komponen penyusun:

  1. Cairan seperti gel (agar-agar atau jeli) yang disebut sitosol.
  2. Substansi simpanan dalam sitoplasma. Substansi ini bervariasi tergantung tipe sel nya. Sebagai contoh, sitoplasma sel hati mengandung simpanan molekul glikogen, sedangkan sitoplasma sel lemak mengandung tetesan lemak besar.
  3. Jaringan yang strukturnya seperti filamen (benang) dan serabut yang saling berhubungan. Jaringan benang dan serabut disebut sitoskleton.
  4. Organel-orgael sel.

Bentuk Sitoplasma

Bentuk sitoplasma merupakan amorfus (tiada berbentuk) yang melingkupi organel sel. Ia dibentuk oleh bahan-bahan seperti enzim, berbagai-bagai jenis protein, nutrien dan garam logam.


Lapisan Sitoplasma

Sitoplasma juga terdiri dari 3 lapisan, yaitu:

  • Ektoplasma, yaitu lapisan tipis, jernih dan berbatasan dengan dinding sel.
  • Tonoplasma, yaitu lapisan tipis, jernih dan berbatasan dengan vakuola.
  • Polioplasma, yaitu lapisan di tengah-tengah yang berbutir-butir.

Ektoplasma dan endoplasma merupakan bagian yang sangat penting karena bersifat semi permiabel (dapat ditembus oleh air,tetapi sukar bagi zat-zat yang tidak larut dalam air), sehingga kedua lapisan itu dapat mengatur zat-zat mana yang dapat diambil dan dilepaskan oleh plasma.


Sifat – Sifat Sitoplasma

Sitoplasma memiliki beberapa sifat antara lain:

  1. Efek Tyndal yaitu kemampuan matriks sitoplasma memantulkan cahaya.
  2. Gerak Brown yaitu gerak acak (zig-zag) partikel penyusun koloid.
  3. Gerak siklosis yaitu gerak matriks sitoplasma berupa arus melingkar.
  4. Memiliki tegangan permukaan.

Matriks Sitoplasma

Matriks sitoplasma atau bahan dasar sitoplasma disebut sitosol. Sitoplasma dapat berubah dari fase sol ke gel dan sebaliknya. Matriks sitoplasma tersusun atas oksigen 62%, karbon 20%, hidrogen 10%, dan nitrogen 3% yang tersusun dalam senyawa organik dan anorganik. Unsur-unsur lain adalah: Ca 2,5%; P 1,14%; Cl 0,16%; S 0,14%; K 0,11%; Na 0,10%; Mg 0,07%; I 0,014%; Fe 0,10%; dan unsur-unsur lain dalam jumlah yang sangat kecil.

Kedua istilah matriks sitoplasma dan sitosol biasanya dipakai untuk menyebut komponen sitoplasma yang bukan organel yang mengisi ruang intrasel di antara organel dan inklusi. Bagian sitoplasma ini mengandung banyak protein terlarut, termasuk protein pembentuk organel dan enzim terlarut yang terlibat dalam metabolisme antara.

Di dalam sitosol terdapat pula substrat dan produk banyak reaksi enzim berbeda. Unsur sitosol penting lainnya adalah molekul kecil dan ion-ion yang meningkatkan efissiensi reaksi metabolik tertentu dan ikut membentuk suasana intrasel yang unik.

Penampilan komponen yang dapat dikatakan tanpa ciri ini seperti yang terlihat dalam sajian, untuk mikroskop elektron yang dipulas dengan cara konvensional dan juga seringnya penggunaan istilah sitosol, cenderung memberi kesan bahwa komponen ini merupakan bagian cair sitoplasma dan tambahan lagi memberi kesan bahwa ia tidak berstruktur dan juga cair.

 Namun tidak cukup bukti untuk menyokong pandangan ini, khususnya pada tingkat molekular, dan sejumlah observasi sebenarnya bertentangan dengannya. Enzim dapat dipertahankan pada posisi sesuai agar dapat menghasilkan substratnya secara efisien, meniru caranya enzim terorientasi dalam membran.

Oleh karena itu terdapat alasan untuk percaya bahwa hampir semua unsur di dalam sitoplasma tidak secara leluasa dapat bergerak  dan bahwa matriks sitoplasma merupakan bahan supernatan (bahan yang mengapung di atas bahan cairan lain, seperti minyak di atas air) intrasel yang tidak berstruktur dan homogrn, terdiri atas molekul yang berdifusi bebas atau semata-mata bagian cair sitoplasma tempat tersuspensi organel-organel secara bebas, tidak dapat dipertahankan lagi.


Stuktur – Stuktur dalam Matriks Sitoplasma

  1. Filamen

Terdapatnya struktur seperti benang dalam matriks sitoplasma yang tidak berbentuk telah diketahui pada beberapa jenis sel dengan mikroskop cahaya. Struktur ini disebut fibril yaitu dbedakan dari fibers yaitu istilah untuk struktur seperti benang yang lebih kasar, misalnya serat otot skelet.

Serat-serat tampak dengan mata biasa atau pada pembesaran rendah, sedangkan fibril hanya dapat dilihat pada mikroskop cahaya dengan pembesaran yang tinggi. Istilah fibril tergantung pada mancam jenis sel diman fibril itu terletak misalnya, pada sel otot disebut miofibril (G. Mys=otot), pada sel-sel saraf yaitu neurofibril (G. Neuron=saraf) dan pada sel epitel tertentu yaitu tono fibril (G. Tonos=tegangan), karena diduga ini penting untuk tegangan sel sehingga bentuk seluler dipertahankan.

Dengan mikroskop elektron tampak bahwa fibril terdiri atas berkas-berkas elemen seperti benagng yang lebih halus yang disebut filamen. Saat ini filamen terutama dianggap membentuk sturktur dasar kontraktilitas. Kontraktilitas adalah sifat dasar protoplasma yang tercakup dalam fenomena penting seperti fagositosis, pinositosis, dan pergerakan amuboid.

Pada kebanyakan sel filamen terdapat dalam zona ektoplasma yang sempit, dimana filamen berjalan dalam berkas yang sejajar atau membentuk jala-jala yang padat.

Seperti yang telah disebutkan, sel-sel otot adalah khusus untuk kontraksi dan berisi sejumlah besar filamen yang disebut miofilamen. Pada sel-sel otot bercorak, terdapat kedua jenis filamen, jenis pertama mempunyai diameter sekitar 5nm dan berisi protein aktin, jenis filamen lainnya lebih tebal sekitar 12nm dan berisi protein miosin. Filamen-filamen aktin dan miosin tersusun sejajar dan secara relatif dapat bergeser satu sama lain. Hal ini mengakibatkan pemendekan sel otot.

Fragmen meromiosin berat dapat mengikat ujung tempat spesifik pada filamen aktin. Karena itu filamen membentuk suatu sudut dengan filamen aktin dan jika suatu seri tempat ikatan ditempati oleh fragmen meromiosin berat didapat gambaran sangat khas seperti “ujung panah”.

Filamen sitoplasma yang berisi aktin dapat diidentifikasi melalui perlakuan sajian dengan suatu larutan meromiosin berat. Dengan cara ini tampak bahwa mikrofilamen sitoplasma berisi aktin, diekstraksi dari sel-sel otot  dan jenis sel lainnya dan sam dalam sifat-sifat molekulnya.

Selain itu, semua aktin mempunyai kemampuan untuk berpolimerisasi timbal balik di bawah keadaan yang sesuai dan berinteraksi dengan miosin. Seperti disebutkan, kontraksi mencakup sejumlah fenomena dalam sel fagositosis dan pinositosis, pergerakan amuboid, aliran sitoplasma dan mikrofilamen diduga merupakan dasar elemen dalam kontraksi jenis ini.

Filamen sedang terdiri atas macam-macam filamen dengan sifat biokimia dan fungsi yang bervariasi, dan istilah grup utama filamen-filamen ini bersama-sama berdasar pada diameter filamen, terletak di tengah-tengah di antara mikrofilamen dan miofilamen. Filamen sedang yang berbeda jenisnya terdiri atas yang berbeda berat molekul yang bervariasi yang kurang khas daripada aktin dan misin karena kesulitan melarutkan filamen sedang dalam bentuk aslinya.

Berkas-berkas dibentuk oleh filamen sedang dengan mikroskop cahaya tampak sebagai fibril dalam sel epitel tertentu, misalnya tonofibril pada sel-sel tertentu, filamen sedang pada sel otot, neurofilamen pada sel saraf dan filamen glia pada sel-sel glia. Fungsinya terutama untuk menghasilkan bantuan mekanis sebagai komponen dari sejenis sitoskleton.

  1. Mikrotubulus

Yang disebut mikrotubulus juga terdapat tunggal dalam matriks sitoplasma semua sel-sel eukariota adalah penemuan yang lebih belakangan. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa mikrotubulus yang terdapat tersebar adalah kurang stabil dan menghilang oleh fiksasi selama pendinginan atau dengan fisatif seperti osmium tetroksida.

Mikrotubulus mempunyai diameter luar sekitar 25 nm dan pada potongan melintang tampak struktur seperti cincin dengan dinding yang padat elektrontebalnya sekitar 6 nm dan tengahnya lebih pucat. Dinding dibentuk dari sub unit globular dengan diameter 4 nm, mungkin tersusun dalam heliks filamen mentosa dengan sub unit tiap putaran heliks.

 Mikrotubulus mungik terdapat dimana-mana namu, mikrotubulus sering tampak tersebar di atas sentrosom, dimana mikrotubulus itu  mungkin berakhir pada satelit. Satelit merupakan struktur kecil yang padat yan terdapat yang berkaitan dengan sentriol .

Selain itu, mikrotubulus adalah bagian khas sel-sel saraf, terutama dalam tonjolan panjang seperti benang yaitu akson dan disebut neurotubulus. Pada kebanyakan sel, mikrotubulus jumlahnya relatif sedikit pada interfase, tetapi berkaitan dengan pembelahan sel dibentuk sejumlah besar mikrotubulus yang menyusun aparatus kumparan.

Mikrotubulus sitoplasma aisusun oleh sub-unit protein yang seragam mikrotubulusnya dari berbagai jenis sel. Istilah tubulin, yang digunakan untuk protein utama dalam silia dan flagel, sekarang secara umum digunakan juga untuk mikrotubulus sitoplasma. Tubulin adalah dimer dengan berat molekul sekitar 110.000. Seterusnya tubulin dapat dipisahkan menjadi dua monomer dengan berat molekul sekitar 55.000.

Mikroutubulus didapat melalui polimerisasi dari sejumlah dimer bebas dan diduga bahwa ada keseimbangan dinamis antara tubulus polimerisasi dan tubulus yang tidak berpolimerisasi, sehingga pergeseran dalam tingkat polimerisasi mengakibatkan hilangnya atau terbentuknya mikrotubulus.

Dalam kaitan ini, sangat menarik bahwa alkaloid tanaman colchicine dan vinblastin dapat berikatan pada dimer tubulin, setelah itu tubulin tidak dapat berpolimerisasi menjadi mikrotubulus.

Fungsi mikrotubulus sitoplasma telah jelas melalui percobaan mempergunakan colchicine dan vinblastin.

Terpisah dari efek pada pembelahan sel, colchicine dapat mempengaruhi transport aksoplasma, yang merupakan dasar suatu dugaan bahwa neurotubulus tercakup dalam transport intraseluler dan untuk pergerakan organel dan inklusi. Akhirnya, mikrotubulus membantu mempertahankan bentuk sel dan merupakan bagian sitoskleton.

  1. Inklusi Sitoplasma

Inklusi dapat diartikan sebagai komponen-komponen sel yang dapat disimpan, yang mungkin disintesa oleh sel itu sendiri atau diambil dari sekitarnya dan sering berada dalam sel hanya untuk sementara. Istilah itu sekarang terutama digunakan untuk penyimpanan nutrisi dan pigmen-pigmen tertentu.


Penyimpanan Nutrisi

Hanya karbohidrat dan lipid disimpan dalam bentuk inklusi pada sel-sel hewan, sedangkan protein terdapat dalam sel terikat dalam struktur protoplasma atau larut dalam matriks. Dari tempat penyimpanan yang penting ini, asam-asam amino dapat dilepaskan jika terdapat kekurangan nutrisi.

  • Karbohidrat

Sel-sel hewan menyimpan krbohidrat dalam bentuk glikogen. Terutama sel-sel hati dan juga sel-sel otot menyimpan glikogen, tetapi sejumlah kecil glikogen terdapat di dalam sitoplasma kebanyakan sel-sel. Glikogen tidak terwarna dalam sajian histologik rutin, oleh karena itu pada sajian yang diwarnai misalnya dengan HE, tampak bentuknya tidak teratur, tampak ruang kecil yang kosong dalam sitoplasma yang berwarna merah muda.

Namun glikogen dapat diamati dengan reaksi PAS atau dengan cara Best carmine, keduanya mewarnai glikogen menjadi merah. Pada sajian mikroskop elektron yang diberi kontras sitrat timah, glikogen tampak sebagai partikel-partikel tidak beraturan yang padat dengan diameter sekitar 15-30 nm. Partikel-partikel ini mungkin membentuk penimbunan yang lebih besar seperti bunga mawar terutama dalam sel-sel hati.

  • Lipid

Penyimpanan lipid terutama dalam bentuk trigliserida dalam sel-sel lemak yang merupakan komponen dasar jaringan lemak. Namun, sel jenis lainnya juga sering berisi timbunan lipid. Trigliserida merupakan cadangan energi, tetapi asam lemak dapat digunakan sebagai tambahan oleh sel untuk sintesa komponen struktur yang berisi lipid misalnya membran-membran.

Pada sajian histologik rutin, trigliserida terekstraksi oleh pelarut lipid dan berkaitan dengan tetesan lipid, vakuol kosong bentuknya bulat tampak dalam sitoplasma. Lemak dapat diamati pada sajian beku yang difiksasi dengan formalin, yang diwarnai dengan pewarnaan Sudan. Lemak juga dapat difiksasi dalam osmium, setelah itu lemak tampak sebagai tetesan bulat berwarna hitam, ukurannya bervariasi. Pada elektron mikrografi sajian yang difiksasi dengan osmium, lipid juga tampak sebagai tetesan bulat dengan bagian dalamnya hitam homogen.


Pigmen-Pigmen

Istilah pigmen adalah zat yang mempunyai warna dalam keadaan alami. Jenis dan jumlah pigmen di dalam suatu jaringan menetukan warnanya.

Pigmen didekan menjadi dua yaitu, pigem eksogen yaitu pigmen yang diambil oleh organisme dari lingkungannya. Pigmen endogen yaitu pigmen yang dibentuk dalam organisme dari komponene-komponen yang tidak berpigmen.

  • Pigmen Eksogen

Pigmen eksogen yang terpenting adalah karoten dan debu arang.

  • Karoten (L. Carota=wortel)

Karoten (L. Carota=wortel) adalah pigmen tanaman berwarana kuning dan merah. Karoten dalam wortel terutama kuning, sedangkan dalam tomat mempunyai warna lebih merah.

Karoten larut dalam lemak dan setelah diambil ke dalam organisme, karoten ditimbun dalam jaringan lemak, yang menyebabkan jaringan lemak berwarna kuning.

Kulit berwarna kuning karena penimbunan karoten dalam sel-sel lemak di dermis dan jaringan subkutan sama seperti dalam lapisan tanduk kulit. Warna kuning krim dan mentega karena karoten dari  sayuran dalam makanan.

  • Debu arang

Debu arang, masuk ke dalam organisme melalui udar inspirasi dan selanjtnya diambil oleh sel fagosit dalam alveoli paru. Dari alveoli, debu arang dibawa oleh limf. Akibatnya paru dan nodus limfatikus yang berkaitan menjadi berpigmen lebih gelap dengan bertambahnya usia.

  • Pigmen Endogen

Pigmen endogen yang terpenting adalah Hemoglobin, dan Lipofusin.

  • Hemoglobin

Hemoglobin adalah pigmen yang berisi besi dari sel-sel darah merah, yang berperan untuk mengangkut oksigen. Lama hidup sel darah merah biasanya sekitar 120 hari. Setelah itu,  sel-sel ini difagosit oleh sel-sel tertentu dalam hati, limpa dan sumsum tulang belakang. Dalam sel-sel ini, hemoglobin dipecahkan menjadi pigmen hemosiderin dan bilirubin.

  • Pigmen Hemosiderin

Pigmen hemosiderin, warnanya coklat kunig dan terdapat sebagai granula sitoplasma dalam sel-sel fagosit. Hemosiderin dapat diamati secara histokimia dengan reaksi pewarna untuk besi.

  • Bilirubin

Bilirubin, adalah pigmen kuning kemerahan yang setelah pembentukannya dalam sel-sel fagositik dengan cepat dilepaskan dari sel fagosit, karena itu secara biasa tidak ditemukan sebagai suatu inklusi pigmen. Pigmen ini disekresi oleh sel-sel hati ke dalam empedu.

  • Lipofusin

Lipofusin. Pigmen ini berwaran coklat keemasan dan terdapat sebagai kelompokkan kecil dalam berbagai sel, tetapi pigmen ini paling sering tampak di sel-sel otot jantung, sel-sel saraf, dan sel-sel hati.

Lipofusin dapat berfluoresensi dengan membentuk waran coklat keemasan dengan cahaya ultraviolet dan terwarna sedang dengan pewarna lemak. Jumlah lipofusin dalam sel-sel meningkat dengan bertambahnya usia dan pigemen dianggap sebagai hasil akhir dari aktivitas lisosom.

Sel tidak dapat menyikngkirkannya melalui eksositosis, karena itu pigmen tertimbun dengan bertambanhay umur dalam bentuk badan residu.

Demikian pembahasa tentang Struktur, Organ Sel dan Komponen Sitoplasma secara lengkap jangan lupa di share sobat Neewslive.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *